Senin, 29 Mei 2017

10 RinggitKu Yang Malang




Pertama kali saya berkunjung ke luar negeri adalah negeri jiran malaysia. Semua serba cepat, jalan cepat, kereta cepat, uang juga cepat (cepat habis).  Selama berada disana saya dan teman-teman serta para dosen lebih sering menggunakan transportasi yang disebut KTM, kereta ini adalah transportasi yang menghubungkan pusat malaysia ke semua daerah disekitarnya, dari segi harga cukup terjangkau sekitar RM 2.40 kurang lebih. Namun ada lagi namanya LRT/MRT ga tau juga sih apa bedanya, kereta tersebut hanya menjangkau  tempat-tempat yang ada di pusat kota saja, harganya juga terjangkau kurang lebih RM 1.20 tergantung jarak juga sih. Tapi kalo di rupiahin murah juga kok. Nah jika kita ingin naik kereta tersebut maka kita dapat membelinya melalui mesin tiket, caranya tinggal pilih tujuan yang diinginkan lalu masukan uang yang tertera di mesin tersebut, maka akan keluar koin yang akan digunakan untuk masuk dalam area stasiun kalo di malaysia namanya stesen. Oiya jaga baik-baik koin tersebut seperti kau menjaga cintamu (hahaha). Nah kalo koin itu sampai hilang sudahlah bakalan gak bisa keluar dari stasiun tujuanmu.
Nah ini kejadian yang paling gak terlupakan, terkait koin juga. Ketika saya pergi jalan-jalan dengan teman-teman sekaligus dengan dosen pendamping saya ke suatu tempat untuk membeli oleh-oleh, saat itu saya dan semuanya hendak kembali ke hotel karena hari mulai larut malam. Kembali ke tempat tinggal kami pun juga menggunakan LRT dan yang pastinya kita harus membeli tiket untuk mendapat koin jika ingin masuk dan keluar stasiun. Akhir nya setelah masuk stasiun, sambil menuggu kerata datang duduklah saya dan sesaat teringat koin tersbut karena tidak boleh hilang saya langsung bergegas mencari koin tersebut karena jika hilang saya tidak dapat keluar dari stasiun dimana saya turun nanti atau kalo tidak ntahlah apa yang terjadi. Akhirnya saya mencari-cari dalam plastik belanjaan saya dan alhamdulillah akhirnya ketemu.
Hari selanjutnya karena kurang belajar dari pengalaman sebelumnya, namun sifatku yang agak ceroboh juga sih, akhirnya suatu ketika saya dan teman-teman yang lain hendak menuju terminal bersepadu (malaysia) untuk berkunjung ke negera tetangga yaitu singapore, kami semua harus menggunakan kereta lagi untuk sampai di terminal tersebut. Dengan sistem yang sama yaitu membeli tiket dan akan mendapat koin, karena koin tersebut sebagai akses kita untuk masuk dan keluar dari stasiun tersebut, Maka jangan sampai menghilangkannya ya. Namun anehnya ketika saya menunggu kereta datang teringat kembali akan koin tersebut dan saya mulai mencarinya lagi namun tidak ketemu, akhirnya saya mengatakan kepada teman-teman yang lain untuk meminta tolong mencarinya lagi. Sampai kereta datangpun akhirnya saya berharap mencarinya kembali dalam kereta. Namun sampai kereta tersebut berhenti di tempat tujuan yang kita tuju belum ketemu juga dan saya sudah memebenarkan baju saya sesering mungkin namun tidak ada juga karena baju saya pun tak ada kantong sama sekali . Akhirnya dengan rasa menyesal dan kesal karena kecerobohan saya sendiri, teman saya langsung ke security bahwa saya telah kehilangan koin, lalu yang terjadi adalah saya kena denda yang sebesar 30 ringgit oh man hampir setara 100 ribu rupiah. Dengan berat hati saya mengeluarkan uang 30 ringgit namun security tersebut mengatakan “tak apalah untuk kamu cukup 10 ringgit saja kau kasih”. Akhirnya lenyaplah 10 ringgitku yang tanpa dosa dari dompet tercinta.
Setelah sampai di terminal dan menuggu bus tujuan kami datang saya berfikir untuk pergi dulu ke toilet karena didalam bus tidak ada toiletnya. Ketika saya membenarkan baju di toilet ada suara benda jatuh dan ternyata koin yang saya cari ternyata terselip baju ya mau tidak mau tetap saya harus mengikhlaskan kepergian 10 ringgitku karena waktu yang tidak memungkinkan untuk kembali ke stasiun tersebut karena bus yang saya naiki sudah datang. Yang akhirnya saya juga ditertawakan oleh teman-teman yang lain.
Maafkan aku 10 ringgitku yang malang karena kecerobohanku kau harus pergi tanpa kejelasan yang pasti.   

PETUALANGAN 7 AS DIMULAI




Tanggal 16 mei 2017 yang di tunggu-tunggu para 7 AS (wahyu, candra, yudi, arif, saya (aulia), firda, dan ulya) pun tiba, sesampai di airport ada beberapa hal yang bikin kita bertujuh tercengang, maklum baru pertama kali pergi ke negara orang. Setelah semua pada chek in termasuk pak dosen, akhirnya kami melakukan beberapa pemeriksaan. Nah ketika sampai di tahap pemeriksaan yang terjadi  ternyata ada barang bawaan yang harus di tinggal oleh kami yaitu botol minum, namun saya bergumam dalam hati “ih perasaan botol minum aku ga ada merk nya deh masak suruh di tinggal juga?”,  lalu ada security yang berkata “ kalo botol minum nya di bawa tidak apa-apa asalkan airnya harus di habiskan dulu”, akhirnya kami bertujuh segera menghbiskan air tersebut hanya demi botol minum yang tak ingin tertinggal di airport yogyakarta.
Selang 30 menit akhirnya kami semua dianjurkan untuk memasuki maskapai yang kita tumpangi. Namun saya , firda, dan ulya menaiki maskapai tersebut paling akhir maklum para cewek ga bisa melewati sebuah toilet. Nah, karena kami penumpang paling akhir yang menaiki maskapai tersebut lalu ada petugas airport bertanya pada saya (karena saya yang aling belakang) “mbak mau kerja ya atau sekolah?”, ya saya menjawab “kami mahasiswa pak mau kuliah”, namun dalam hati saya menggumam “masak dah rapi cantik gini mau kerja” tapi gak papalah kan orang tidak tahu kalo kita mau ngapain di malaysia.
Setibanya kami di Kuala Lumpur malaysia sekitar pukul 12.05 waktu di kuala lumpur, saya merasa takjub karena airportnya besar sekali. Lalu keluar dari airport kami semua naik sebuah bus yang membawa kami ke daerah yang namanya KL central. Sepanjang jalan kami banyak di jelaskan oleh pembimbing kami namanya mas samsul, karena beliau dulunya ketika jadi mahasiswa pernah mengikuti student exchange yang diadakan oleh prodi. Namun, beliau menjalani kegiatan tersebut selama 1 bulan, “jadi hafal sekali tentang kuala lumpur”
Nah sesampainya kami di kuala lumpur central nama bekennya “(KL Central)”, kami dan para dosen langsung menuju sebuah hotel yang nantinya akan kami tinggali selama menjalani agenda students exchange. Ketika kami sudah mendapatkan kamar masing-masing, akhirnya kami bergegas menuju kamar yang sudah ditentukan, Saya 1 kamar dengan firda dan ulya. Baru saja sampai kamar, mas samsul mengabarkan bahwa kami harus turun ke lobby hotel untuk makan siang. Lalu kami di bawa ke sebuah tempat makan, kayanya sih tempat makanan khas india gitu. Ketika makan kami mendapatkan nasi namanya nasi briyani dalamnya terdapat campuran sayuran. Jujur aja sih rasanya gimana gitu, emang enak nasi putihnya indonesia lauknya pake tempe tahu.
Setelah acara makan usai, ternyata kami langsung berangkat jalan-jalan ke KLCC dan menikmati suasana indahnya air mancur dan menara petronas di malam harinya. Namun ketika menjelang petang para kaum lelaki ingin melanjutkan petualangan kembali. Karena kami bertiga para kaum hawa lelah, akhirnya kami memutuskan untuk menetap saja. Ternyata beberapa saat kemudian dalam grup wa banyak foto mereka “para kaum lelaki” naik ke twin tower. Tapi kami bertiga tak masalah karena sudah dapat belanjaan, biasa kaum hawa laper mata. Dan Malam itu juga saya merasa benar-benar berada di Luar negeri euy. Setelah jam menunjukkan pukul 9 akhirnya kami pulang ke hotel untuk beristirahat, karena esok hari kami bertujuh akan memulai aktivitas yang bakalan membuat kami dapat banyak pengalaman lebih banyak lagi.

Senin, 15 Mei 2017

EXPERIENCE IS THE BEST TEACHER



Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh perkenalkan nama saya aulia nur agustina namun teman-teman biasa memanggilku aul. Inilah pertama kali saya membuat pengalaman atau cerita tentang diri saya sendiri dan mempostingnya di blog. oiya Umur saya di tahun 2017 ini in sha Allah menginjak 23 tahun, saya lahir di ujung pandang (sulawesi selatan) anak pertama dari 3 bersaudara ayah saya keturunan asli jawa sedangkan ibu saya beliau keturunan asli Sumatra tepatnya padang. Sekarang saya duduk di bangku kuliah yang sudah memasuki tahap semester 6 dan saya salah satu mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tepatnya di universitas islam indonesia. Dalam hal ini saya akan sedikit bercerita tentang diri saya dan beberapa pengalaman yang saya miliki.
Ketika saya lahir tepatnya pada tahun 1994 di kota ujung pandang yang saat itu domisili orang tua saya disana karena ayah saya seorang kontraktor yang pada tahun tersebut mendapatkan kontak kerja di salah satu perusahaan semen disana. Setelah saya memasuki umur 2 tahun orang tua saya mendapatkan kontrak kerja lagi namun di daerah lain yaitu di daerah pulau jawa tepatnya di jawa timur kota tuban dan masih di perusahaan Semen juga. Akhirnya tak lama kemudian tahun 1996 saya mendapatkan adik laki-laki yang bernama rizky setiawan yang saat ini sudah berusia 21 tahun yang juga sudah duduk dibangku kuliah.
Singkat cerita dari saya duduk di taman kanak-kanak saya sudah dimasukkan oleh orang tua saya untuk mengikuti taman pendidikan membaca Al-qur’an. Yang alhmdulilah ketika saya sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar saya sudah dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar. sedari kecil saya memang tidak terbiasa dan dibiasakan oleh orang tua saya untuk berkerudung dalam sehari-hari kecuali pada saat mengikuti pelajaran membaca Al-qur’an yaa!
Lalu setelah saya menyelesaikan studi di pendididkan sekolah dasar. Selanjutnya saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Negeri Menengah Pertama. Yang saat itu juga saya tidak mengenakan jilbab. Saat itu pula masa puber dimulai yang akhirnya saya selalu kena sasaran empuk oleh orang tua saya alias Diomelin habis-habisan yang selalu banyak bermain dengan teman-teman yang selalu lewat jam atau waktu yang sudah di tentukan. Akhirnya ketika saya duduk di kelas 9 dan suasana saat itu adalah bulan suci ramadhan dimana sekolah saya mendapat giliran pesantren kilat dari pesantren yang terkenal di jawa timur. Akhirnya terbesit didalam hati kecil saya ingin untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya di pesantren tersebut. Setelah Ujian Nasional terlewati akhirnya saya memberanikan diri saya untuk mengatakan kepada kedua orang tua bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan saya selanjutnya ke pesantren. Dan munculah pro dan kontra antara ayah dan ibu saya, yakni ayah saya mendukung sedangkan ibu saya kurang mendukung karrena harus jauh dari anak perempuannya ini. Namun seiring berjalannya waktu alhamdulillah ibu saya mengijinkan saya untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah  keatas di pondok pesantren.
4 tahun berlalu dan saya lalui di pesantren tersebut, banyak hal yang saya dapat dari sana terutama pengalaman yang berharga sekali. Ketika kelulusan itu datang saya berdoa kepada Allah semoga saya tidak di tempatkan di tempat pengabdian yang jauh dari orang tua saya. Karena pada saat itu ayah saya baru masa pemulihan dari sakitnya. Oiya, pengabdian itu sifatnya wajib bagi para santri yang dinyatakan lulus oleh pesantren tersebut dan hal tersebut sebagai syarat pengambilan ijasah. Balik lagi ke pengumuman kelulusan, pada hari itu saya duduk paling depan dengan teman-teman saya. Lama menunggu, saya agak heran kok belum dipanggil juga karena pada saat itu teman-teman saya yang lain sudah di panggil. Akhirnya, selang beberapa menit alhamdulilah nama saya pun terpanggil. Lalu apa yang terjadi, semua di luar dugaan dan sempat nangis juga sih, karena saya mendapatkan tempat pengabdian yang benar-benar jauh dari rumah yaitu Sabang (aceh) pulau paling ujung yang ada di indonesia, orang-orang bilangnya sih titik nol kilometernya indonesia. Dengan berat hati saya harus meninggalkan orang tua saya selama 1 tahun untuk melaksanakan tugas dan amanah yang sudah diberikan oleh pesantren tersebut.
1 tahun berlalu di kota sabang, saatnya saya harus kembali dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Suasana ketika saya kembali ke kota asal adalah hampir semua perguruan tinggi negeri maupun swasta akan ditutup, saat itu juga saya bingung ingin melanjutkan kemana jurusan apa? Saya daftar di salah satu peruguran tinggi di malang tidak lolos. Sempat ada rasa putus asa namun tante membantu saya melanjutkan perguruan tinggi di kota surabaya supaya bisa tinggal dengan beliau juga sih sebenarnya. Namun saya kurang cocok dengan kampus tersebut yang pertama saya tidak perlu tes karena saya langsung masuk, yang kedua biayanya sangat tinggi karena finansial orang tua saya biasa saja. Akhirnya saya menolak tawaran tersebut karena masuk tanpa tes membuat saya tidak yakin apakah saya cocok dengan jurusan tersebut. Pertengahan agustus sudah dekat yang sudah panyak perguruan tinggi sudah banyak yang tutup.
Hari selanjutnya, ada teman saya namanya sita dia adalah teman yang udah seperti saudara sendiri karena kami sudah akrab dari sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, masuk ke pesantren yang sama dan akhirnya dia juga yang memberikan solusi untuk tes di perguruan tinggi swasta di kota yogyakarta tepatnya di universitas islam indonesia. Pada saat tes berakhir, alhamdulillah hasilnya kami diterima di kampus tersebut dengan jurusan yang berbeda. Yang sampai saat ini saya masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menuntut ilmu di kampus tersebut.

Terimakasih Student Exchange Program 2017

  Suatu hari sempat terbesit dalam hati “kapan ya saya bisa keluar negeri seperti teman-teman saya yang lain”. 2 semester berlalu d...