Semua yang ada dan tercipta dalam Kehidupan ini
karena kehendak Allah SWT. Begitu juga keinginan dan harapan setiap umat
manusia kepada Tuhan-nya agar segalanya terwujud dan yang seakan hanya mimpi
bisa menjadi kenyataan. Begitupun saya sendiri memiliki keinginan serta harapan
terhadap sesuatu, namun semua itu tidak hanya didapatkan dengan mudahnya
layaknya kita menghirup udara. Allah SWT memerintahkan kepada semua umatnya
bahwasanya jika menginginkan sesuatu agar hanya meminta kepada-NYA, berharap
kepada-NYA melalui doa serta kerja/usaha keras untuk mendapatkan sesuatu
tersebut. Doa akan terwujud dengan cara 3 hal yang pertama akan terwujud pada
saat itu juga, yang kedua akan terwujud namun harus menunggu sampai
berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dan yang terkahir tidak
terwujud namun diganti dengan yang lebih baik. Dan saya sendiri mersakan hal
tersebut.
Ketika saya telah selesai menempuh pendidikan
di pesantren hal tersebut belum membuat diri saya sendiri merasa lega, karena
saya harus menyelesaikan pengabdian saya terlebih dahulu sebagai tanda terima
kasih saya terhadap pesantren tersebut. Lalu, dengan harapan yang tinggi kepada
Allah agar saya mendapatkan tempat pengabdian di pesantren tempat saya belajar,
namun Allah berkehendak lain dengan berat hati saya harus meninggalkan keluarga
termasuk orang tua saya 1 th lamanya, karena tempat pengabdian tersebut berada
sangat jauh dari daerah asal ku yaitu tepatnya di kota Sabang yang menjadi
sebutan titik nol kilometernya indonesia. Namun seiring berjalannya waktu saya
sangat bersyukur dan tidak pernah menyesali kehendak-NYA, karena banyak
pengalaman yang saya dapatkan diantaranya memahami karakter siswa-siswi SMP
maupun SMA, cara mengajar yang baik dan benar, serta saya mendapatkan keluarga baru
disana.
Ada satu pengalaman yang menarik ketika saya
sedang dalam masa pengabdian, saya dan teman seperjuangan saya ingin mencoba
membuat paspor karena kami ingin berlibur kesana ketika datang waktu libur
tiba. Karena kota sabang juga dekat dengan negara tetangga yaitu malaysia.
Prosedur pembuatan paspor pada saat itu tidak begitu sulit dan prosesnya pun
cukup memakan waktu hanya 1 hingga 2 hari saja. Namun takdir berkata lain,
setelah paspor jadi dan waktu libur telah datang kami mengurungkan niat kami
kesana karena berhalangan dengan acara yang ada di pesantren tempat kami
mengabdi. Namun kami bertiga berharap dan jika Allah SWT berkehendak bahwa
suatu saat paspor tersebut akan terpakai.
Akhirnya masa pengabdian kami pun berakhir,
salah satu dari kami alhmdulillah paspornya terpakai. Karena dia diterima di
perguruan tinggi (kairo mesir). Sedangkan Saya sendiri diterima di perguruan
tinggi universitas islam indonesia dengan mengambil jurusan hukum islam yang
sekarang sudah berubah nama menjadi akhwal-syakhshiyah. Lalu Hari-hari
selanjutnya ternyata teman saya satu lagi yang berada di perguruan tinggi kota
malang pun mendapatkan undangan ke singapore untuk suatu acara, akhirnya saya
tersadar bahwa hanya saya sendiri yang paspornya belum terpakai dan saat itu
pula saya sudah duduk di bangku semester 3. Melihat teman-teman saya yang lain
baik teman seperjuangan ketika mengabdi maupun teman-teman di kampus yang sudah
mersakan indahnya mencari ilmu di negara lain tentu membuat hati kecil saya
bersedih dan penuh harap “Ya Allah engkau yang maha pemberi dan membuat
segalanya menjadi nyata”, lalu apakah saya bisa seperti teman- teman saya yang
lain dapat merasakan indahnya mencari ilmu ke berbagai negara. Semester 4 pun
tiba yang tak lama kemudian prodi yang saya tempuh membuka program
international. Yang kemudian saya mencoba untuk ikut tes dan segala prosedur
yang di tentukan. Alhamdulillah atas izin Allah saya diberikan kesempatan untuk
merasakan dan mendapatkan ilmu di kelas international yang hanya menerima 10
orang dari angakatan saya.
Semester 5 berlalu dan Tibalah waktu semester
6, dengan doa dan harapan yang sama untuk dapat merasakan menuntut ilmu di luar
negeri yang tak lepas pula dengan usaha dan belajar keras. Alhamdulillah akhirnya
prodi akhwal-syakhshiyah yang saya tempuh ini membuka seleksi pertukaran
pelajar ke suatu perguruan tinggi di malaysia, dengan usaha dan doa saya
mengikuti prosedur serta beberapa tes. untuk dapat mengikuti program ini prodi
hanya menerima 7 mahasiswa saja.
Waktu pun berlalu, pengumuman hasil seleksi pun
sudah muncul, dengan hati yang terharu dan bersujud, serta tiada henti diri ini
mengucapkan rasa syukur terima kasih sebanyak mungkin kepada Allah SWT akhirnya
penantian serta harapan yang selalu aku panjatkan kepada-NYA terwujud dan
menjadi kenyataan. 7 mahasiswa yang mendapatkan kesempatan ini diantaranya :
ulya shafa firdausi, firda annisa, wahyu syuhada, akhmad cahyudi, abdussalam
zainal arifin dan saya sendiri. Dan keberangkatan para peserta pada tanggal 16
mei 2017, itulah detik-detik perjalanan dan pengalaman baru kami yang akan segera dimulai.
Memang benar Doa akan terwujud dengan cara 3
hal yang pertama akan terwujud pada saat itu juga, yang kedua akan terwujud
namun harus menunggu sampai berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun, dan yang terkahir tidak terwujud namun diganti dengan yang
lebih baik. Maka dari itu bagi kalian jangan berhenti berharap berdoa dan
berusaha sekuat mungkin karena Allah pasti akan mengabulkan apa yang kita ingin
kan melalui cara apapun dan kapanpun.
Dan semoga ilmu yang kami dapatkan ketika
sebelum, selama, maupun setelah pertukaran pelajar ini bermanfaat untuk diri
kami, orang lain, baik dunia maupun di akhirat kelak. Serta menjadikan prodi
ahkwal-syakhshiyah semakin berkualitas dalam segi ilmu maupun yang lainnya dan terus
berkembang di kancah nasional maupun international.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar