Assalamu’alaikum
warrahmatullahi wabarakaatuh perkenalkan nama saya aulia nur agustina namun
teman-teman biasa memanggilku aul. Inilah pertama kali saya membuat pengalaman
atau cerita tentang diri saya sendiri dan mempostingnya di blog. oiya Umur saya
di tahun 2017 ini in sha Allah menginjak 23 tahun, saya lahir di ujung pandang
(sulawesi selatan) anak pertama dari 3 bersaudara ayah saya keturunan asli jawa
sedangkan ibu saya beliau keturunan asli Sumatra tepatnya padang. Sekarang saya
duduk di bangku kuliah yang sudah memasuki tahap semester 6 dan saya salah satu
mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tepatnya di universitas
islam indonesia. Dalam hal ini saya akan sedikit bercerita tentang diri saya
dan beberapa pengalaman yang saya miliki.
Ketika
saya lahir tepatnya pada tahun 1994 di kota ujung pandang yang saat itu
domisili orang tua saya disana karena ayah saya seorang kontraktor yang pada
tahun tersebut mendapatkan kontak kerja di salah satu perusahaan semen disana. Setelah
saya memasuki umur 2 tahun orang tua saya mendapatkan kontrak kerja lagi namun
di daerah lain yaitu di daerah pulau jawa tepatnya di jawa timur kota tuban dan
masih di perusahaan Semen juga. Akhirnya tak lama kemudian tahun 1996 saya
mendapatkan adik laki-laki yang bernama rizky setiawan yang saat ini sudah
berusia 21 tahun yang juga sudah duduk dibangku kuliah.
Singkat
cerita dari saya duduk di taman kanak-kanak saya sudah dimasukkan oleh orang
tua saya untuk mengikuti taman pendidikan membaca Al-qur’an. Yang alhmdulilah
ketika saya sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar saya sudah dapat
membaca Al-Qur’an dengan lancar. sedari kecil saya memang tidak terbiasa dan
dibiasakan oleh orang tua saya untuk berkerudung dalam sehari-hari kecuali pada
saat mengikuti pelajaran membaca Al-qur’an yaa!
Lalu
setelah saya menyelesaikan studi di pendididkan sekolah dasar. Selanjutnya saya
melanjutkan pendidikan di Sekolah Negeri Menengah Pertama. Yang saat itu juga
saya tidak mengenakan jilbab. Saat itu pula masa puber dimulai yang akhirnya
saya selalu kena sasaran empuk oleh orang tua saya alias Diomelin habis-habisan
yang selalu banyak bermain dengan teman-teman yang selalu lewat jam atau waktu
yang sudah di tentukan. Akhirnya ketika saya duduk di kelas 9 dan suasana saat
itu adalah bulan suci ramadhan dimana sekolah saya mendapat giliran pesantren
kilat dari pesantren yang terkenal di jawa timur. Akhirnya terbesit didalam
hati kecil saya ingin untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya di pesantren
tersebut. Setelah Ujian Nasional terlewati akhirnya saya memberanikan diri saya
untuk mengatakan kepada kedua orang tua bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan
saya selanjutnya ke pesantren. Dan munculah pro dan kontra antara ayah dan ibu
saya, yakni ayah saya mendukung sedangkan ibu saya kurang mendukung karrena
harus jauh dari anak perempuannya ini. Namun seiring berjalannya waktu
alhamdulillah ibu saya mengijinkan saya untuk melanjutkan pendidikan sekolah
menengah keatas di pondok pesantren.
4 tahun
berlalu dan saya lalui di pesantren tersebut, banyak hal yang saya dapat dari
sana terutama pengalaman yang berharga sekali. Ketika kelulusan itu datang saya
berdoa kepada Allah semoga saya tidak di tempatkan di tempat pengabdian yang
jauh dari orang tua saya. Karena pada saat itu ayah saya baru masa pemulihan
dari sakitnya. Oiya, pengabdian itu sifatnya wajib bagi para santri yang
dinyatakan lulus oleh pesantren tersebut dan hal tersebut sebagai syarat
pengambilan ijasah. Balik lagi ke pengumuman kelulusan, pada hari itu saya
duduk paling depan dengan teman-teman saya. Lama menunggu, saya agak heran kok belum
dipanggil juga karena pada saat itu teman-teman saya yang lain sudah di
panggil. Akhirnya, selang beberapa menit alhamdulilah nama saya pun terpanggil.
Lalu apa yang terjadi, semua di luar dugaan dan sempat nangis juga sih, karena
saya mendapatkan tempat pengabdian yang benar-benar jauh dari rumah yaitu
Sabang (aceh) pulau paling ujung yang ada di indonesia, orang-orang bilangnya
sih titik nol kilometernya indonesia. Dengan berat hati saya harus meninggalkan
orang tua saya selama 1 tahun untuk melaksanakan tugas dan amanah yang sudah
diberikan oleh pesantren tersebut.
1 tahun
berlalu di kota sabang, saatnya saya harus kembali dan melanjutkan pendidikan
yang lebih tinggi. Suasana ketika saya kembali ke kota asal adalah hampir semua
perguruan tinggi negeri maupun swasta akan ditutup, saat itu juga saya bingung
ingin melanjutkan kemana jurusan apa? Saya daftar di salah satu peruguran
tinggi di malang tidak lolos. Sempat ada rasa putus asa namun tante membantu
saya melanjutkan perguruan tinggi di kota surabaya supaya bisa tinggal dengan
beliau juga sih sebenarnya. Namun saya kurang cocok dengan kampus tersebut yang
pertama saya tidak perlu tes karena saya langsung masuk, yang kedua biayanya
sangat tinggi karena finansial orang tua saya biasa saja. Akhirnya saya menolak
tawaran tersebut karena masuk tanpa tes membuat saya tidak yakin apakah saya
cocok dengan jurusan tersebut. Pertengahan agustus sudah dekat yang sudah
panyak perguruan tinggi sudah banyak yang tutup.
Hari
selanjutnya, ada teman saya namanya sita dia adalah teman yang udah seperti
saudara sendiri karena kami sudah akrab dari sejak duduk di bangku sekolah
menengah pertama, masuk ke pesantren yang sama dan akhirnya dia juga yang
memberikan solusi untuk tes di perguruan tinggi swasta di kota yogyakarta
tepatnya di universitas islam indonesia. Pada saat tes berakhir, alhamdulillah
hasilnya kami diterima di kampus tersebut dengan jurusan yang berbeda. Yang
sampai saat ini saya masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menuntut
ilmu di kampus tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar