Senin, 15 Mei 2017

EXPERIENCE IS THE BEST TEACHER



Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh perkenalkan nama saya aulia nur agustina namun teman-teman biasa memanggilku aul. Inilah pertama kali saya membuat pengalaman atau cerita tentang diri saya sendiri dan mempostingnya di blog. oiya Umur saya di tahun 2017 ini in sha Allah menginjak 23 tahun, saya lahir di ujung pandang (sulawesi selatan) anak pertama dari 3 bersaudara ayah saya keturunan asli jawa sedangkan ibu saya beliau keturunan asli Sumatra tepatnya padang. Sekarang saya duduk di bangku kuliah yang sudah memasuki tahap semester 6 dan saya salah satu mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tepatnya di universitas islam indonesia. Dalam hal ini saya akan sedikit bercerita tentang diri saya dan beberapa pengalaman yang saya miliki.
Ketika saya lahir tepatnya pada tahun 1994 di kota ujung pandang yang saat itu domisili orang tua saya disana karena ayah saya seorang kontraktor yang pada tahun tersebut mendapatkan kontak kerja di salah satu perusahaan semen disana. Setelah saya memasuki umur 2 tahun orang tua saya mendapatkan kontrak kerja lagi namun di daerah lain yaitu di daerah pulau jawa tepatnya di jawa timur kota tuban dan masih di perusahaan Semen juga. Akhirnya tak lama kemudian tahun 1996 saya mendapatkan adik laki-laki yang bernama rizky setiawan yang saat ini sudah berusia 21 tahun yang juga sudah duduk dibangku kuliah.
Singkat cerita dari saya duduk di taman kanak-kanak saya sudah dimasukkan oleh orang tua saya untuk mengikuti taman pendidikan membaca Al-qur’an. Yang alhmdulilah ketika saya sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar saya sudah dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar. sedari kecil saya memang tidak terbiasa dan dibiasakan oleh orang tua saya untuk berkerudung dalam sehari-hari kecuali pada saat mengikuti pelajaran membaca Al-qur’an yaa!
Lalu setelah saya menyelesaikan studi di pendididkan sekolah dasar. Selanjutnya saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Negeri Menengah Pertama. Yang saat itu juga saya tidak mengenakan jilbab. Saat itu pula masa puber dimulai yang akhirnya saya selalu kena sasaran empuk oleh orang tua saya alias Diomelin habis-habisan yang selalu banyak bermain dengan teman-teman yang selalu lewat jam atau waktu yang sudah di tentukan. Akhirnya ketika saya duduk di kelas 9 dan suasana saat itu adalah bulan suci ramadhan dimana sekolah saya mendapat giliran pesantren kilat dari pesantren yang terkenal di jawa timur. Akhirnya terbesit didalam hati kecil saya ingin untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya di pesantren tersebut. Setelah Ujian Nasional terlewati akhirnya saya memberanikan diri saya untuk mengatakan kepada kedua orang tua bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan saya selanjutnya ke pesantren. Dan munculah pro dan kontra antara ayah dan ibu saya, yakni ayah saya mendukung sedangkan ibu saya kurang mendukung karrena harus jauh dari anak perempuannya ini. Namun seiring berjalannya waktu alhamdulillah ibu saya mengijinkan saya untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah  keatas di pondok pesantren.
4 tahun berlalu dan saya lalui di pesantren tersebut, banyak hal yang saya dapat dari sana terutama pengalaman yang berharga sekali. Ketika kelulusan itu datang saya berdoa kepada Allah semoga saya tidak di tempatkan di tempat pengabdian yang jauh dari orang tua saya. Karena pada saat itu ayah saya baru masa pemulihan dari sakitnya. Oiya, pengabdian itu sifatnya wajib bagi para santri yang dinyatakan lulus oleh pesantren tersebut dan hal tersebut sebagai syarat pengambilan ijasah. Balik lagi ke pengumuman kelulusan, pada hari itu saya duduk paling depan dengan teman-teman saya. Lama menunggu, saya agak heran kok belum dipanggil juga karena pada saat itu teman-teman saya yang lain sudah di panggil. Akhirnya, selang beberapa menit alhamdulilah nama saya pun terpanggil. Lalu apa yang terjadi, semua di luar dugaan dan sempat nangis juga sih, karena saya mendapatkan tempat pengabdian yang benar-benar jauh dari rumah yaitu Sabang (aceh) pulau paling ujung yang ada di indonesia, orang-orang bilangnya sih titik nol kilometernya indonesia. Dengan berat hati saya harus meninggalkan orang tua saya selama 1 tahun untuk melaksanakan tugas dan amanah yang sudah diberikan oleh pesantren tersebut.
1 tahun berlalu di kota sabang, saatnya saya harus kembali dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Suasana ketika saya kembali ke kota asal adalah hampir semua perguruan tinggi negeri maupun swasta akan ditutup, saat itu juga saya bingung ingin melanjutkan kemana jurusan apa? Saya daftar di salah satu peruguran tinggi di malang tidak lolos. Sempat ada rasa putus asa namun tante membantu saya melanjutkan perguruan tinggi di kota surabaya supaya bisa tinggal dengan beliau juga sih sebenarnya. Namun saya kurang cocok dengan kampus tersebut yang pertama saya tidak perlu tes karena saya langsung masuk, yang kedua biayanya sangat tinggi karena finansial orang tua saya biasa saja. Akhirnya saya menolak tawaran tersebut karena masuk tanpa tes membuat saya tidak yakin apakah saya cocok dengan jurusan tersebut. Pertengahan agustus sudah dekat yang sudah panyak perguruan tinggi sudah banyak yang tutup.
Hari selanjutnya, ada teman saya namanya sita dia adalah teman yang udah seperti saudara sendiri karena kami sudah akrab dari sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, masuk ke pesantren yang sama dan akhirnya dia juga yang memberikan solusi untuk tes di perguruan tinggi swasta di kota yogyakarta tepatnya di universitas islam indonesia. Pada saat tes berakhir, alhamdulillah hasilnya kami diterima di kampus tersebut dengan jurusan yang berbeda. Yang sampai saat ini saya masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menuntut ilmu di kampus tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Student Exchange Program 2017

  Suatu hari sempat terbesit dalam hati “kapan ya saya bisa keluar negeri seperti teman-teman saya yang lain”. 2 semester berlalu d...